Senin, 16 Mei 2016

Manusia dan Cinta Kasih

Manusia Dan Cinta Kasih


Seperti yang kita semua telah ketahui, bahwa manusia dan kehidupan manusia tidak bisa lepas dari apa yang disebut dengan cinta kasih (love). Banyak penyair, pencipta lagu, ahli-ahli filsafat, dan ahli-ahli agama yang mencoba mendefinisikan apa arti sebenarnya dari cinta kasih itu. Apa arti cinta sebenarnya, cinta kasih sesama manusia dari sudut pandang Islam. Terutama dalam kaitannya pada cinta kasih antara laki-laki dan perempuan.
Banyak orang berkata: I love you (Aku cinta padamu), akan tetapi, sebenarnya mereka hanya berkata bahwa aku cinta wajahmu yang cantik jelita, aku cinta uangmu, fasilitasmu, dan yang sejenisnya. Apakah ini cinta? Berikut kita akan bahas banyak hal mengenai cinta



A. Pengertian Cinta Kasih

Menurut kamus umum bahasa Indonesia karya WJS Poerwadarminta. Cinta adalah rasa sangat suka (kepada) atau (rasa) sayang (kepada). Ataupun rasa sangat kasih atau sangat tertarik hatinya sedangkan kata kasih artinya perasaan saying atau cinta kepada atau menaruh belas kasihan. Dengan demikian arti cinta dan kasih hampir bersamaan, sehingga kata kasih memperkuat rasa cinta. Karena itu cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka (saying) kepada seseorang yang disertai menaruh belas kasihan.

3 Unsur Tentang Cinta:


1. Keterikatan : Adanya perasaan untuk hanya bersama dia, segala prioritas untuk dia, tidak mau pergi dengan orang lain kecuali dia.
2. Keintiman : Adanya kebiasaan-kebiasaan dan tingkah laku yang menunjukkan bahwa antara anda dengan dia sudah tidak ada jarak lagi.
3. Kemesraan : Adanya rasa ingin membelai atau dibelai, rasa kangen kalau jauh atau lama tidak bertemu, adanya ucapan-ucapan yang mengungkapkan rasa sayang dan seterusnya.



Gambar Unsur dalam cinta segitiga






Kadang-kadang ada yang keterikatannya sangat kuat, tetapi keintiman atau kemesraannya kurang. Cinta seperti itu mengandung kesetiaan yang amat kuat, kecemburuannya besaar, tetapi dirasakan oleh pasangannya sebagai dingin atau hambar, karena tidak ada kehangatan yang ditimbulkan kemesraan atau keintiman. misalnya cinta sahabat karib atau saudara kandung yang penuh dengan keakraban, tetapi tidak ada gejolak-gejolak mesra dan orang yang bersangkutan masih lebih setia kepada hal-hal lain pada partnernya.
Cinta juga dapat diwarnai dengan kemesraan yang sangat menggejolak, tetapi unsur keintiman dan keterikatannya yang kurang. Cinta seperti itu dinamakan cinta yang pincang, karena garis-garis unsur cintanya tidak membuat segitiga sama sisi, seperti nyata pada gambar berikut:


3 Tingkatan Cinta

1. Cinta kepada Tuhan pemilik alam semesta ini, karena tanpa kekuasaanya, kita takkan ada di bumi ini. Dan cintailah pengikutnya yaitu nabi Muhammad saw. Dalam islam ada sebuah saran, yaitu cintailah nabimu, yaitu Muhammad saw. Karenanya ia kan membawa kebenaran kepada umatnya.
2. Cinta kepada kedua orang tua yang senantiasa menjaga kita dari sebelum lahir hingga saat ini. Perjuangan seorang ibu itu tiada tara dibanding apapun juga. Dia senantiasa menanggung kita selama 9 bulan dalam perutnya dan mempertaruhkan nyawanya demi lahirnya kita di bumi ini.
3. Cinta terhadap teman maupun teman spesial dalam hidup kita.

Cinta memiliki 3 tingkatan yaitu tinggi, menengah dan rendah. Cinta tingkat tinggi adalah cinta kepada Allah, rasulallah dan berjihad dijalan Allah. Cinta tingkat menengah adalah cinta kepada orang tua, anak, saudara, istri/suami dan kerabat. Cinta tingkat rendah hanya cinta yang lebih mengutamakan cinta keluarga, kerabat, harta dan tempat tinggal.

B. CINTA DALAM AJARAN ISLAM


Cinta (love) secara bahasa adalah suka sekali dan senang sekali. Cinta secara istilah ialah rasa kasih sayang yang muncul dari lubuk hati yang terdalam untuk rela berkorban, tanpa mengharap imbalan apapun, dan dari siapapun kecuali imbalan yang datang dan diridhoi Allah.

Dalam Islam, kasih sayang adalah identitas dan asas iman. Hal itu merupakan bukti pengaruh agama terhadap hati nurani, seperti halnya ia juga merupakan kesaksian jiwa manusia yang menurut term (istilah) Islam belum akan diakui beragama bila ia tidak memiliki perasaan kasih sayang.

Allah berfirman: Katakanlah: “Jika bapa-bapa (para pembesar dan nenek moyang), anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada mencintai Allah dan RasulNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan (azab/siksaan)-Nya, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.( Al-Qur’an Surat At-Taubat, 9: 24)


C. Kasih Sayang

Kasih sayang adalah perasaan sayang, perasaan cinta atau perasaan suka kepada seseorang. Dalam kehidupan berumah tangga kasih sayang merupakan kunci kebahagiaan. Kasih sayang ini merupakan pertumbuhan dari cinta. Dalam kasih sayang sadar atau tidak sadar dari masing-masing pihak dituntut tanggungjawab, pengorbanan, kejujuran, saling percaya, saling pengertian, saling terbuka, sehingga keduanya merupakan kesatuan yang bulat dan utuh. Bila salah satu unsur kasih sayang hilang, misalnya unsur tanggungjawab, maka retaklah keutuhan rumah tangga itu.

D. Kemesraan

Kemesraan berasal dari kata dasar mesra, yang artinya perasaan simpati yang akrab. Kemesraan ialah hubungan yagn akrab baik antara pria dan wanita yang sedang dimabuk asmara maupun yang sudah berumah tangga. Kemesraan pada dasarnya merupakan perwujudan kasih saying yang mendalam.

E. Pemujaan

Pemujaan adalah salah satu manifestasi cinta manusia kepada Tuhannya yang diwujudkan dalam bentuk komunikasi ritual.

F. Belas Kasihan

Dalam surat Yohanes dijelaskan ada 3 macam cinta. Cinta Agape ialah cinta manusia kepada Tuhan. Cinta Philia ialah cinta kepada ibu bapak (orang tua) dan saudara. Dan ketiga cinta eros atau amor ini ialah cinta antara pria dan wanita. Beda antara cinta amor dan eros ini adalah cinta eros cinta karena kodrat sebagai laki-laki dan perempuan, sedangkan cinta amor karena unsure-unsur yang sulit dinalar, misalnya gadis normal yang cantik mencintai dan mau menikahi seorang pemuda yang kerdil. Cinta terhadap sesame merupakan perpaduan cinta agape dan cinta philia. Cinta sesame ini diberikan istilah belas kasihan untuk membedakan antara cinta kepada orang tua, pria-wanita, cinta kepada Tuhan. Dalam cinta kepada sesana ini diberi istilah belas kasihan, karena cinta disini buka karena cakapnya, kayanya, cantiknya, melainkan karena penderitaannya.

G. CINTA KASIH EROTIS

Cinta kasih erotis yaitu kehausan akan penyatuan yang sempurna, akan penyatuan dengan seseorang lainnya. cinta kasih erotis bersifat ekslusif, bukan universal, pertama-tama cinta kasih erotis kerap kali di campurbaurkan dengan pengalaman yang dapat di eksplosif berupan jatuh cinta. Tetapi seperti yang telah dikatakan terlebih dahulu , pengalaman intimitas, kemesraan yang tiba-tiba ini pada hakekatnya hanya sementara.
Keinginan seksual menuju kepada penyatuan diri, tetapi sekali-kali bukan merupakan nafsu fisi belaka, untuk meredakan ketegangan yang menyakitkan. Rupanya keinginan seksual dengan mudah dapat di dicampuri atau di stimulasi oleh tiap-tiap perasaan yang mendalam.
Dalam cinta kasih erotis terdapat eksklusivitas yang tidak terdapat dalam cinta kasih persaudaraan dan cinta kasih keibuan, sering kali eksklusivitas dalam cinta kasih erotis di salah tafsirkan dan di artikan sebagai suatu ikatan hak milik, contoh sering kita jumpai separang orang-orang yang sedang saling mencintai tanpa merasakan cinta kasih terhadap setiap orang lainya.

Sumber:
http://hasqial.blogspot.co.id/2011/01/cinta-kasih-erotis.html
https://addressgimanamaksudnya.wordpress.com/2012/10/14/tugas-ibdbab-4/
https://www.facebook.com/notes/muhammad-nurhadi/arti-cinta-dan-cinta-sejati-menurut-islam-cinta-dan-cinta-sejati-antara-pria-dan/10150422321291156/
http://ronibudi17.blogspot.co.id/

Kamis, 21 April 2016

Mind Mapping ilmu budaya dalam kesusastraan


Untuk gambar yang lebih jelas
 https://drive.google.com/file/d/0B1C2zFB2F2Pxc2tLdmh5M2FXRlE/view?usp=sharing

Prosa Lama

Prosa lama


Prosa lama adalah sebuah karya sastra yang belum mendapat pengaruh dari kebudayaan barat. Pada awalnya prosa lama berbentuk lisan karena belum ditemukannya alat tulis menulis. Namun, kini prosa lama juga dapat ditemukan dalam bentuk tulisan. Adapun bentuk-bentuk prosa lama, diantaranya adalah:

1. Hikayat


Hikayat merupakan cerita yang berisi tentang kehidupan para dewi, dewa, pangeran, raja, dan lain-lain. Cerita-cerita yang ada di dalam hikayat bersifat fiksi dan tidak masuk akal. Contohnya adalah Hikayat Hang Jebat, Hikayat Nabi Sulaiman, Hikayat Raja Bijak, dan lain-lain.

2. Sejarah (Tambo)


Sejarah adalah salah satu bentuk prosa lama yang bercerita tentang peristiwa-peristiwa tertentu. Sejarah sastra lama berbeda dengan sejarah yang ditulis pada masa kini. Kebanyakana sastra lama sejarah disampaikan dengan menambahkan penyedap atau bumbu-bumbu cerita sehingga terdengar lebih menarik. Sedangkan sejarah yang ditulis pada masa kini sama persis dengan kejadian sebenarnya dan dapat dibuktikan dengan fakta. Contoh bentuk prosa lama sejarah adalah Sejarah Melayu yang ditulis oleh Tun Sri Lanang pada tahun 1612.

3. Kisah


Kisah adalah prosa lama yang berbentuk cerita-cerita pendek. Biasanya kisah bercerita tantang sebuah perjalanan, pengalaman atau petualangan orang-orang dahulu. Salah satu ontoh prosa lama kisah adalah Kisah Raja Abdullah menuju Kota Mekkah.

4. Dongeng


Salah satu bentuk prosa lama yang sangat popular adalah dongeng. Bentuk prosa lama ini bercerita tentang khayalan-khayalan masyrakat pada zaman dahulu. Ragam dan bentuk dongeng pun berbeda-beda sesuai dengan isinya. Bentuk-bentuk dongeng antara lain:

a. Myth (Mitos)


Mite atau Myth adalah dongeng yang bercerita tentang kepercayan terhadap alam-alam ghaib atau benda-benda magis. Contoh: Ratu Pantai Selatan, Dongeng tentang Batu Menangis, Dongeng asal-usul kuntilanak, dan lain-lain.

b. Legenda


Bentuk dongen ini bercerita tentang riwayat atau asal-usul terjadinya sesuatu. Contohnya adalah Legenda Tangkuban Perahu, Legenda Pulau Jawa, dan lain-lain.

c. Fabel


Fabel bercerita tentang kisah-kisah yang menokohkan binatang. Cerita fable ini biasa digunakan oleh orang-orang tua sebagai media untuk mendidik anak-anak mereka. Contoh: Si Kancil dan Buaya, Si Kancil yang Cerdik, dan lain-lain.

d. Sage


Bentuk dongeng ini menceritakan tentang kisah-kisah kepahlawanan, keberanian, maupun kisah kesaktian seseorang. Contohnya adalah Ciung Winara, Patih Gadjah Mada, Calon Arang, dan lain-lain.

e. Jenaka atau Pandir


Dongeng jenaka atau pandir menceritakan tentang orang-orang bodoh yang bernasib sial. Dongeng ini biasanya bersifat humor dan menghibur pendengarnya dengan kelucuan-kelucuan yang ada di dalam cerita. Contoh: Dongeng Abunawas, Dongeng Si Pandir, dan lain-lain.

Contoh Prosa Lama :


Si Jampang Pendekar Betawi

Si Jampang pendekar Betawi adalah salah satu cerita rakyat dari daerah Jakarta yang sangat terkenal, Jampang dikenal sebagai seorang pendekar yang sering mencuri harta orang-orang kaya yang menjadi kaki tangan para penjajah Belanda lalu membagikan hasil curian-nya kepada rakyat miskin yang menderita karena penjajahan Belanda dan berikut ini adalah cerita selengkapnya mengenai Si Jampang Pendekar Betawi tersebut.
 Anak laki-laki itu dinamakan Jampang. la lahir di desa Jampang Sukabumi Selatan. Bapaknya berasal dari Banten dan ibunya berasal dari desa ]ampang. Anak laki-laki itu tinggal di rumah pamannya di Grogol Depok. Pamannya sangat sayang kepadanya, selain keponakan, anak laki-laki itu juga yatim piatu yang memerlukan perlindungan.
 Sang paman membawa Jampang dari desa Jampang ke Grogol Depok. Dirumah pamannya, Jampang dibesarkan. Jampang diperlakukan sebagai anak sendiri. Agar ]ampang memiliki ilmu, bekal hidupnya, oleh pamannya ia disuruh mengaji pada seorang guru ngaji di Grogol Depok. Jampang juga disuruh belajar ilmu bela diri oleh pamannya.  
Pamannya berkata,
"Pang, Lu mesti punya kepandaian silat, karena menegakkan kebenaran tanpa kekuatan adalah sia-sia."
" Aye mang ! " jawab Jampang penuh rasa hormat.
" Lu ikut mamang ke Cianjur, lu belajar silat disana ama kenalan mamang."
" Aye sih pegimane mamang."
Oleh pamannya, Jampang diantarkan ke Cianjur untuk belajar sekaligus menetap dirumah guru silat.
Selain belajar silat, ]ampang membantu guru silatnya, Jampang membantu menanem padi, merapikan rumah. Ditempat guru silatnya, Jampang memperlakukan diri sebagai anak, tidak berpangku tangan. Guru silatnya menjadi sayang, dan dengan rela hati mengajarkan semua kepandaian yang dimiliki termasuk ilmu kebatinan.
 Setelah Jampang menyelesaikan menuntut ilmu silat, ia kembali ke Grogol Depok. Guru silatnya berpesan kepadanya agar ilmu yang didapatnya jangan digunakan untuk berbuat kejahatan. Jampang mengangguk setuju, kemudian mencium tangan guru silatnya mohon izin meninggalkan Cianjur kembali ke Grogol Depok "Pang! Salam aye buat mamang lu," ujar Guru silatnya. " Aye, Guru !"
 Jampang kembali ke rumah Mamang di Grogol Depok. Dari Cianjur Jampang berjalan kaki melewati jalan setapak naik turun perbukitan menuju Bogor. Dari Bogor Jarnpang menumpang kereta api Buitenzorg-Batavia turun di Depok. Pamannya sangat gembira menyambut kedatangan Jampang yang telah berbulan lamanya meninggalkan rumah untuk menuntut ilmu silat.
 Oleh pamannya, Jampang diminta meneruskan menuntut ilmu mengaji. Jampang dengan patuh memenuhi permintaan mamangnya. Berkat ketekunan dan kepatuhan untuk menuntut ilmu mengaji, Jampang dengan mudah menyerap ilmu mengaji yang diajarkan gurunya. Gurunya menjadi sayang kepadanya, selama menuntut ilmu mengaji, Jampang juga membantu mamangnya dan guru ngajinya mengerjakan sawah.
 Setelah merasa cukup memiliki bekal ilmu dan usianya telah menanjak dewasa menjadi seorang pemuda, Jampang merasa sudah saatnya tidak bergantung lagi dengan mamangnya. Jampang menyampaikan keinginannya untuk merantau ke Betawi.

" Kalo emang lu pengen merantau, lu mesti bawa diri, biar orang laen seneng ame lu." mamangnya menasehati " Aye mang." jawab Jampang.

Jampang berangkat ke Betawi, memulai kehidupan mandiri. Di Betawi Jarnpang menuju salah seorang ternan mamangnya di Kebayoran Lama. la diterima menetap dirumah tersebut. Sebagai penumpang, Jampang membantu si empunya rumah berkebun serta berdagang buah di pasar Tanah Abang.

Suasana Kebayoran Lama tempat Jampang menetap di bawah kekuasaan tuan tanah dengan centeng centengnya yang setiap bulan datang menagih pajak kepada penduduk. Bila penduduk tidak punya uang untuk membayar pajak, para centeng tak segan-segan mengambil harta milik yang ada di rumah penduduk. Ada kambing yang terlihat di kandang akan diambil. Keadaan bisa lebih buruk lagi, para centeng akan memukuli orang yang tidak bisa membayar pajak.
 Jampang menyaksikan perilaku para centeng yang tidak punya perikemanusiaan kepada penduduk. Timbul keinginan untuk menantang para centeng, tapi Jarnpang masih berpikir akan nasib orang yang ditumpanginya. Jampang mengamati dengan cermat wajah para centeng dan bertekad akan membalas perbuatan mereka dikemudian hari.

Selama menumpang dirumah itu, Jampang berkenalan dengan gadis kampung tersebut. Jampang menjalin tali kasih dengan wanita di kampung itu, kemudian berniat membina rumah tangga. Jampang menyampaikan isi hatinya wanita tersebut setuju, kemudian si empunya rumah diminta untuk melamar orangtua wanita tersebut.

Jampang menikah dengan gadis Kebayoran Lama dan pindah menetap dirumah mertuanya. Oleh mertuanya, Jampang diberi sebidang tanah untuk digarap. Bersama isterinya, Jampang menggarap tanah, menanami lahan dengan bibit padi, kacang dan kelapa. Selain menggarap tanah, Jampang juga menjual hasil kebun mertuanya ke pasar Tanah Abang.

Isterinya hamil kemudian melahirkan seorang anak laki-laki diberi nama Jampang muda. Wajah anaknya sangat mirip dengan dirinya, ibarat pinang dibelah dua. Jampang sangat gembira, kegembiraan yang tidak terkatakan. Setiap selesai bekerja di kebun atau menjual hasil kebun di pasar, Jampang selalu bercanda dengan anaknya.
Sekalipun Jampang memiliki ilmu silat yang tinggi, tetapi ia pun terkena tagihan dari centeng tuan tanah Kebayoran. Sebenarnya Jampang ingin melawan, tetapi memikirkan anaknya yang masih disusui isterinya Jampang mengalah, membiarkan para centeng beraksi didepan matanya.
 " Mane pajak lu, cepat ! " hardik centeng padanya.

" Ini bang! Jampang menyerahkan uang beberapa sen pada centeng tersebut.

"Lu memang penduduk yang taat.

" Aye bang" Jampang berpura-pura seperti orang bodoh

Ketika anaknya berusia 4 tahun, isterinya meninggal dunia. Jampang sangat sedih dengan kepergian isterinya. Ditatapnya mata anaknya yang kini tidak beribu lagi. mertuanya datang menggendong anaknya sarnbil berkata.

" Biarlah dia ame kami disini Pang."

"Aye nyak."

" Lu mau kemane Pang ?"

" Mau ke Tanah Abang nyak."
 Jampang menitipkan anaknya kepada mertuanya, ia pergi ke Tanah Abang. Jampang memutuskan untuk mengambil kembali hak miliknya dan hak milik mertuanya serta penduduk yang diambil oleh para tuan tanah dan centeng secara sewenang-wenang.

Jampang pergi ke Tanah Abang sambil melewati rumah para tuan tanah dan orang-orang kaya serta rumah para centeng. Sungguh sangat berbeda, rumah mereka penuh dengan perabotan mahal. Dari mana lagi kalau bukan dari hasil memeras penduduk.

Jampang di pasar Tanah Abang sampai menjelang Ashar. Kemudian pergi ke rumah seorang tuan tanah, mengamati dengan cermat keadaan rumah, berapa centeng yang menjaga, bagaimana jalan masuk yang tepat. Setelah itu Jampang pergi ke langgar, menunggu sambil sholat Maghrib dan Isya.

"Anak siape ? " tanya imam sekaligus ustadz langgar menyapanya

"Aye Jampang pak imam" jawab Jampang

" Anak dari mane? "

" Aye dari Kebayoran Lama"

" Ada keperluan apa singgah di kampung ini ?"

" Aye pengen ngambil milik aye yang dirampok tuan tanah", "Hati-hati nak, banyak jagoannya." .

" Pan aye punya penolong " " Siape ?"

" Nyang diatas, Allah "

Imam langgar geleng kepala. Jampang segera mengambil wudhu dan azan Maghrib. Kemudian shalat Maghrib berjamaah.

Selesai sholat, imam langgar mengajak Jampang makan di rumahnya. Jampang tidak menolak, mengikuti imam langgar menuju rumah imam langgar. Sambil jalan imam langgar berkata, "Malam ini ada pertunjukan di kampung sebelah, biasanye lewat Isya para centeng dan tuan tanah pergi".

"Terima kasih pak ustadz."

Setelah sholat Isya, Jampang bergerak perlahan mendekati rumah tuan tanah. Dari kejauhan terlihat kerumunan orang. Para centeng dengan golok di pinggang sambil menyulut rokok sebagian duduk, sebagian berdiri. Kemudian keluar seorang yang barangkali tuan tanah. Kemudian kerumunan itu pergi dari rumah itu menuju ke kampung sebelah menonton pertunjukan Gambang Kromong.

Jampang dengan cermat mengawasi kepergian tuan tanah dan para centengnya. Setelah mereka berlalu beberapa saat, Jampang masih tetap di tempatnya untuk mengawasi keadaan rumah. kemudian keluar seorang lelaki, menutup pintu pagar lalu masuk kembali ke dalam rumah. Jampang bergerak perlahan-lahan sambil mengawasi keadaan sekitarnya.

Suasana sepi, gemerisik angin dan suara jangkrik memecah kesunyian malam. Jampang melompati pagar rumah tuan tanah, kemudian merangsek maju mendekati jendela, menempelkan telinga pada kayu dan jendela. Terdengar suara perempuan sedang berbincangbincang didalam rumah.

" Nyak, kalung aye belon juge dibeliin kapan nyak ? "terdengar suara perempuan muda, mungkin anak tuan tanah.

" Entar kalo si Rochim ame babe lu, pasti lu punya kalung juga" ujar perempuan tua, mungkin isteri tuan tanah.

" Babe sih seneng ingkar janji, bukannya beliin untuk aye, tapi buat gendak-gendaknya. "

" Kagak bener lu omongin babe lu, durhaka nak."

" Biarin, abisnye aye kagak dibeliin gelang " " Sono tidur, pan udah malem "

Jampang bergeser ke jendela lainnya, memasangkan telinga untuk mendengar, tak ada suara apa-apa, mungkin sudah tidur. Dengan perlahan-lahan menggunakan tenaga dalam, Jarnpang membuka jendela lalu melompat masuk. Seorang lelaki yang sedang tidur ayarn tersentak bangun, Jampang dengan sigap membekuk laki-laki itu untuk tidur kembali, sebuah pukulannya membuat lelaki itu terkulai layu tak berdaya. Jampang kemudian bergerak kekamar tidur tuan tanah. Tangannya mengetuk pintu perlahan-lahan, terdengar suara panggilan dari dalarn karnar.

" Siape, elu Min ?" tanya isteri tuan tanah.

"Aye nyah" ujar Jarnpang memalsukan suara" Ada ape sih? Lu mau nonton ?" " lye nyah "

Terdengar langkah menuju pintu, pintu terbuka, dalam waktu tak lebih dari dua detik, Jampang berhasil membekuk isteri tuan tanah. Goloknya ditodong ke Ieher isteri tuan tanah.

"Tunjukan mane lemari lu "Jampang mengarah isteri tuan tanah ke lemari di dalam kamar.

"Jangan !" ujar isteri tuan tanah.

" Lu teriak gue sabet leher lu."

Jampang membuka pintu lemari, ternyata terkunci. Jampang menekan ujung goloknya ke leher isteri tuan tanah.

" Ampun, " ujar isteri tuan tanah minta belas kasihan " Ambilin kuncinya, cepat!"

" Lepasin aye"

" Tidak, mana kuncinya ?"

lsteri tuan tanah menunjuk kearah kasur. Jarnpang mengarah isteri tuan tanah ke sisi kasur, kemudian mengangkat kasurnya, mengambil kunci. Kemudian Jampang mengikat isteri tuan tanah dan menyumpal mulutnya dengan kain.

Jampang membuka lemari, mengarnbil uang dan emas yang ada dalam lemari, kemudian uang emas dan beberapa potong kain sarung dikumpulkan dalam sebuah kain sarung. Lalu Jampang mendekati isteri tuan tanah, melucuti kalung, gelang serta cincin yang dipakai isteri tuan tanah.

"Hei perempuan, lu pikir semua bande ini milik lu?" ujar Jampang seraya menengadahkan kepala isteri tuan tanah dengan tangannya.

"Bande ini laki lu rarnpas dari rakyat, ini semua keringat penduduk, yang kerjanya setengah mati, lu enak-enak main rampas," ujar Jampang menatap tajam ke muka isteri tuan tanah.

Jarnpang kemudian keluar dari kamar tersebut, menutup pintunya perlahan-lahan, berjingkat ke arah kamar yang tempat ia masuk, melompat lewat jendeia kemudian mendekati pagar, lalu melompat keluar.

Jampang melangkah waspada, tidak melalui jalan yang biasa dilalui orang. Ia mengambil jalan lewat tegalan sawah menuju ke Kebayoran. Jampang tiba di rumahnya saat hampir subuh. Selama perjalanan, Jampang membagi-bagikan sebagian rampasannya ke rumah-rumah penduduk miskin. Sampai di rumah, Jampang segera menyimpan sisa rampasan, lalu mengambil air wudhu, melaksanakan sholat subuh.

Memohon ampun kepada Allah tindakan yang terpaksa dilakukan, kemudian tidur lelap. Setelah peristiwa tersebut, Jampang mencari tahu tentang tuan tanah tersebut semakin bengis dalam menagih pajak, tidak perduli keluhan penduduk mengapa tagihan pajak begitucepat dari waktunya.

"Pan pajeknye udah aye bed kemarin" ujar penduduk pada centeng.

"Diam lu, ngebacot gua golok " hardik centeng.

Jampang yang menyaksikan keadaan tersebut, tidak bisa menahan diri. Jampang menghadang beberapa orang centeng yang baru saja merampas dari sebuah rumah penduduk.

"Minggir lu bangsat ! " hardik centeng pada Jampang.

" Serahin semua bawaan lu " pinta Jampang.

" Lu mau ngerampok ?"

" Emang kenape, lu juga ngerampok," ujar Jampang tenang.

Centeng-centeng segera mengayunkan goloknya ke arah Jampang. Dengan sigap Jampang melayani perkelahian dengan para centeng. Seorang centeng yang mencoba melarikan barang, segera dijegal Jampang. Perkelahian menjadi seru. Satu persatu centeng berhasil dilumpuhkan, kemudian Jampang melemparkan golok mereka ke rumput ilalang, lalu menghardik mereka.

" Bangun ! pergi atau gue cabut nyawa elu-elu"

Para centeng dengan susah payah bangun, kemudian terbirit-birit menjauh dari Jampang, kemudian hilang dari pandangan.

Penduduk segera berdatangan, Jampang melemparkan barang-barang rampasan dari centeng kepada penduduk. " Ambil yang kalian punya" ujar Jampang.

Para penduduk memilih barang mereka kemudian mendekati Jampang, sebagian berlutut ingin mencium kakinya.

" Jangan ! gue bukan Belande, bangun ! pulang kerumah masing-masing " seru Jampang.

" Terima kasih, Bang " penduduk memberi hormat. Kemudian Jampang berlalu dari tempat itu.

Jampang terus melakukan aksinya setiap malam ke rumah tuan tanah, rumah para centeng dan rumah orang kaya. Jampang terus berpindah tempat diantaranya Grogol, Pasar Ikan, Tanjung Priok dan Tambun Bekasi. Selain melakukan aksi perampasan malam hari, Jampang juga selalu menghadang para centeng yang menagih pajak atas penduduk.

Karena aksinya, namanya dikenal luas oleh penduduk, si Jampang dihormati dan dielu-elukan kehadirannya, sedangkan bagi para centeng, tuan tanah, demang dan Belanda, si Jampang sangat dibenci dan diburu.

Penguasa penjajah mengerahkan polisi untuk mengintai si Jampang, tetapi karena ia selalu berpindah-pindah tempat operasinya, sulit bagi polisi Belanda menangkapnya, sementara jagoan centeng para tuan tanah tidak mampu membunuh Jampang dalam setiap perkelahian. Akibat keberhasilan yang selalu memihaknya Jampang digelari penduduk sebagai Si Jampang Jago Betawi.

Sehari harinya Jampang sangat memperhatikan anaknya. Anaknya dititipkan di rumah mertuanya. Setiap ada kesempatan Jampang mendatangi rumah mertuanya menemui anaknya. Baru setelah anaknya berusia diatas sepuluh tahun. Jampang mengajak tidur dirumah mereka, jika kebetulan menginap di rumah, jika Jampang beroperasi, anaknya dititipkan dirumah mertua. Jampang tak ingin mertuanya dan anaknya susah, karenanya Jampang tidak beroperasi dikampungnya.

Jampang juga mengajarkan anaknya ilmu serta ilmu agama seadanya jika kebetulan di rumah. Anaknya tumbuh menjadi dewasa dan kekar. Mencapai usia 15 tahun, Jampang berkata pada anaknya.

"Eh lu tong, gua mau nanya ame lu. lu mau sekolah apa lu mau ngaji?" Tanya Jampang.

"Ngaji aye nggak mau, sekolah juga aye ogah. Aye kepengen belajar main pukul kaye babe".

"Lu jangan main pukul kaya bapak lu, kalau lu ogah semua, baekan lu kawin aje dah".

"Aye kagak mau kawin be, kalau gitu aye mendingan sekolah aje, kalau babe mau kawin, babe aja dah yang kawin". Jampang tertawa mendengarkan jawaban dan usulan anaknya.

"Kalo lu punya nyak lagi, gua punya kawan yang bernama Sarba di tanah perkembangan Tambun" kata Jampang. Jampang kemudian menyerahkan anaknya pada seorang guru ngaji. Setelah itu Jampang pergi ke tanah perkembangan menemui Sarba temannya.

Di tanah perkembangan Jampang di sambut oleh Si Ciput pembantu rumah tangga Sarba. Jampang gembira sekali karena akan bertemu temannya yang sudah lama berpisah.

"Eh Put kemana Sarba?" tanya Jampang antusias.

"Sarba pan udah meninggaI" ujar Ciput tenang menjawab pertanyaan Jampang. Jampang kaget bukan kepalang, Jampang bagaikan tak percaya pada pertanyaan Ciput.

"Hah! Masa iye Put, Sarba udah meninggal ??? kalo gitu istri Sarba si Mayangsari menjande ye Put?" Jampang berkelakar.

"Betul" jawab Ciput tersenyum.

"Wah, kebetulan sekali Put, gua sedang kagak punya bini, bini gua udah meninggal Put. Coba lu omongin ame Si Mayangsari. Put, ape mau die kawin arne gua?" Jampang minta Ciput untuk memberitahukan keinginannya pada Mayangsari.

Ciput masuk ke dalam rumah, sementara Jampang duduk di serambi rumah. Beberapa waktu kemudian Ciput dan Mayangsari menemui Jampang, Jampang tersentak bangun dan menyalami Mayangsari.

"Mayangsari ... Abang Sarba pergi kemane?" Jampang berpura-pura tidak tahu.

"Abang lu jangan ditanya, Sarba telah lama meninggal dunia" Mayangsari menjawab dalam nada sedih.

"Sakit apa abang Sarba kok aye nggak dikabarin" Mayangsari kemudian menjelaskan.

"Begini Jampang, ketika gua ama abang lu belum punya anak, dulunye kite bedua pegi ke gunung Kepuk Batu. Maksudnya kita mau ziarah di makam keramat sembari mohon supaya dikasih anak. Disana kita diterima juru kunci yang bernama Pak Samat. Kemudian pak Samat membakar kemenyan sambil membuka mantera-mantera, dan tak lama keluarlah setan dari tempat keramat itu.

Abang lu Sarba bertanye kepada to setan, "Apakah gua bakal punya anak?" Tuh setan manggut-manggut. Anak perempuan atau anak laki-laki? Setannye diem aja. Anakku perempuan? Setannye geleng kepala. Anak laki-laki. Setannye manggut-manggut. Abang lu bilang kalau saye dapat anak laki-laki, saya berjanji akan membawa sepasang Bekakak Kebo yang ditusuk dari pantat sampai kepala katanye.

Setelah itu gue ame abang lu pulang lagi kerumah dan beberapa bulan kemudian gue ngandung sesudah genap usia kandungan gue, lahirlah seorang bayi laki-laki, anak itu gue kasih nama Abdih. Lima belas taon udehnye tentunya si Abdih udeh gede, gue arne abang lu tuh jadi bingung abis gimane, keadaan sulit mane si Abdih pengen disekolahin, maka untuk menentramkan hati gue, Bang Sarba lu tuh ngajakin gue jalan-jalan dan plesiran sambil ngajakin si Abdih ke Betawi.

Tapi malang nasib Abang lu si Sarba dadakan aja tuh jatuh sakit dan lantas kontan meninggal di tempat plesiran itu juga. Hal ini menurut dukun, Bang Sarba tidak menepati janjinya waktu memuja-muja di gunung Kepuk Batu. Kalo dapet anak laki-laki akan bawain sepasang Bekakak Kebo." 

Demikian Mayangsari menjelaskan panjang lebar tentang kematian Sarba. Jampang dengan serius mendengar penjelasan Mayangsari.

"Kemane anak Mpok si Abdih itu?" tanya Jampang.

"Die sedang sekolah di Bandung" jawab Mayangsari. Jampang memanfaatkan kesempatan, dialog tersebut untuk menyampaikan maksudnya. Dalam kesempatan yang tepat Jampang melontarkan niatnya.

"Mpok jande, aye dude, nah baeknya kita kawin aje kan klop" ujar Jampang serius dan mengharapkan jawaban.

"He Jampang, kalo lu pengen kawin, lu urusin sendiri diri lu, ape lu mau cari jande kek, perawan kek itu urusan lu asal jangan lu mau kawin ame gue, itukan nggak pantes" Mayangsari sangat berang, kemudian bangkit meninggalkan Jampang duduk sendiri.

Jampang belum menyerah. Ia meminta Ciput memberitahu kepada Mayangsari bahwa niatnya bukanlah main-main. Jampang juga menjanjikan hadiah bila Ciput bisa meluluhkan hati Mayangsari. Ciput masuk ke rumah untuk melunakan hati Mayangsari. Ternyata Mayangsari marah besar, Ciput mendapat sumpah serapah. Mayangsari kemudian keluar menemui Jampang sambil berujar.

"Lu jangan ngerecokin gue Jampang, gue lagi bingung nih" seraya meludahi muka Jampang kemudian masuk ke rumah.

Jampang merasa malu dengan perlakuan Mayangsari. Jampang beranjak meninggalkan rumah temannya almarhum Sarba. Jampang bertekad untuk menutupi malunya dengan menikahi Mayangsaridengan jalan apapun. Jampang pergi kerumah keponakannya. Sarpin keponakan Jampang juga seorang jagoan.

Sarpin kaget melihat kedatangan Jampang, pamannya yang sudah lama tak bertemu. Kepada Sarpin Jampang menceritakan pengalamannya dengan Mayangsari, dan meminta Sarpin membantu. Sarpin dengan senang hati bersedia membantu pamannya. Mereka menemui seorang dukun manjur untuk mendapatkan ilmu pelet agar Mayangsari tergila-gila padanya. Pak Dul dukun manjur dari kampung Gabus memberikan ilmu pelet kepada Jampang.

Berbekal ilmu pelet tersebut, Jampang menemui Mayangsari kontan saja Mayangsari menjadi gila. Jampang menjadi kuatir dan pergi. Beberapa hari kemudian Abdih anak Mayangsari pulang dari Bandung, menemukan ibunya gila, lalu Abdih berupaya menyembuhkan. Abdih mengetahui sebab ibunya menjadi gila. Setelah ibunya. sembuh. Abdih menemui Jampang dan menceritakan bahwa ibunya bisa menikah dengan Jampang asalkan dipenuhi syarat.

"Apa syaratnye?" tanya Jampang.

"Syaratnya Bapak Jampang harus memberi mas kawinnya kebo sepasang."

Mengetahui syarat yang diajukan, Jampang kemudian mengajak Sarpin untuk merampas kerbau milik Haji Saud di Tambun. Dalam aksi perampasan mereka dengan mudah membawa kerbau tersebut. Dalam perjalanan pulang, Jampang dan Sarpin temyata telah dikepung berpuluh serdadu Belanda bersenjata lengkap. Jampang dan Sarpin tertangkap dan dipenjarakan.

Jampang kemudian diadili, segala aksinya sejak dulu diungkapkan di persidangan dan menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Jampang dengan tabah menuju tiang gantungan sambil berdoa memohon ampunan kepada Allah bahwa apa yang dilakukan olehnya tak lebih dari reaksi orang-orang tertindas oleh kejaliman penjajah beserta kaki tangannya.

Regu tembak menarik pelatuk dan ajalnya memang tiba, tamatlah riwayat Si Jampang. Jago betawi yang dibenci penjajah beserta kaki tangannya tetapi dicintai oleh penduduk.





Sumber :


Asal Usul Soto Khas Betawi

Soto Betawi

Soto Betawi merupakan soto yang populer di daerah Jakarta. Seperti halnya soto Madura dan soto sulung, soto Betawi juga menggunakan jeroan. Selain jeroan, seringkali organ-organ lain juga disertakan, seperti mata, terpedo, dan juga hati.



Sejarah

Istilah soto Betawi hadir dalam kuliner masakan Indonesia sekitar tahun 1977-1978, namun bukan bearti tidak ada soto sebelum tahun tersebut. Yang memopulerkan dan yang pertama memakai kata soto Betawi adalah penjual soto bernamaLie Boen Po di THR Lokasari / Prinsen Park, tentunya dengan ciri khas cita rasa sendiri.
Banyak penjual soto pada masa tahun-tahun tersebut, biasanya menyebut dengan soto kaki Pak "X" atau sebutan lainnya. Istilah soto Betawi mulai menyebar menjadi istilah umum ketika penjual soto tersebut tutup sekitar tahun 1991.

Resep Soto Betawi

Bahan :

500g jerohan (usus, paru, dan babat)
500g daging sapi skengkel (paha atas)
2 buah kentang, dikupas, dibelah 4 bagian, dan digoreng
2 batang serai, dimemarkan
3 lembar daun salam
3 lembar daun jeruk
1½ liter santan sedang kentalnya
2 sdm air jeruk limo
2 sdm bawang goreng
1 batang daun bawang diiris halus
1 buah tomat dipotong 8 bagian
1 sdm daun sledri dirajang halus
1 batang kayu manis
1 sdt garam
1 sdm gula
minyak untuk menumis
emping melinjo goreng

Bumbu yang dihaluskan :

3 siung bawang putih
7 buah bawang merah
3 butir kemiri
2 sdt jintan
2 sdt lada
3 sdt ketumbar

Cara membuat :


  • Bersihkan jerohan, kemudian rebus hingga ¾ empuk. Angkat dan sisihkan.
  • Rebus santan hingga mendidih dengan api kecil. Masukkan jeroan dan daging. Rebus kembali hingga keduanya matang.
  • Tumis bumbu yang dihaluskan hingga harum dan matang. Masukkan serai, daun salam, daun jeruk, dan kayu manis. Setelah bumbu benar-benar harum dan matang, masukkan jeroan, daging, garam, dan gula ke dalam rebusan.
  • Angkat jeroan dan daging. Potong-potong sesuai selera, lalu goreng. Sisihkan.
  • Cara menyajikan: Letakkan potongan kentang goreng, potongan jeroan dan daging, daun bawang, daun sledri, dan air jeruk limau di dasar mangkok. Siram dengan kuah soto. Terakhir, taburi dengan bawang goreng. Hidangkan dengan emping melinjo.

  • Sumber : 

    https://id.wikipedia.org/wiki/Soto_Betawi



    © rifky saputra
    Maira Gall